ATASI LIMBAH ORGANIK, KKN UNDIP CIPTAKAN SMART COMPOSTER DI TPS 3R KEPRABON

ATASI LIMBAH ORGANIK, KKN UNDIP CIPTAKAN SMART COMPOSTER DI TPS 3R KEPRABON
ATASI LIMBAH ORGANIK, KKN UNDIP CIPTAKAN SMART COMPOSTER DI TPS 3R KEPRABON

Polanharjo Klaten - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan program kerja multidisiplin berupa pengelolaan limbah organik menggunakan smart composter di TPS 3R Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Minggu (26/7/2026). Kegiatan ini diikuti oleh para relawan pengurus TPS 3R setempat.

Program ini digagas untuk menjawab persoalan penumpukan limbah organik rumah tangga yang selama ini belum tertangani secara optimal di tingkat desa. Tim KKN merancang komposter berkapasitas 120 liter yang dilengkapi sistem penyemprot air otomatis yang sebuah inovasi yang membedakannya dari komposter konvensional. Sistem otomatis ini dibuat agar kelembaban tumpukan sampah dan cairan fermentasi tetap terjaga tanpa harus disiram manual setiap 3 hari sekali. Kelembaban yang stabil sangat penting karena bakteri pengurai dalam proses fermentasi POC (Pupuk Organik Cair) maupun kompos padat akan mati jika media terlalu kering, sehingga proses pengomposan bisa terhambat atau bahkan gagal.

Dalam program ini, Stephanie Cello Lareina, mahasiswa Program Studi Kimia Undip, berkontribusi menyusun dan menyampaikan materi teknis penggunaan POC hasil fermentasi komposter kepada para relawan TPS 3R. Materi yang disampaikan mencakup tahapan kerja pembuatan POC menggunakan sistem tong kran dan saringan, mulai dari persiapan bahan, perawatan rutin, hingga panen air lindinya.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung perakitan dan pengisian komposter bersama bapak-bapak relawan TPS 3R. Cello memandu jalannya praktik, mengarahkan tahap demi tahap mulai dari pencacahan limbah organik, pelarutan EM4 dan tetes tebu, penyiraman larutan ke tumpukan bahan, hingga penataan dedak dan sekam pada permukaan tumpukan sebagai kontrol kelembaban dan bau. Para relawan yang mempraktikkan langsung tahapan tersebut di bawah arahannya, sehingga proses perakitan komposter dapat berjalan sesuai prosedur dan siap dioperasikan di TPS 3R.

Selain itu, Cello juga memaparkan panduan dosis dan jadwal aplikasi POC untuk berbagai jenis tanaman. Untuk sayuran daun dan sayuran muda, POC diencerkan dengan perbandingan 1:15 dan diaplikasikan 2--3 kali seminggu, sementara tanaman berbuah seperti tomat dan cabai menggunakan pengenceran 1:10 dengan frekuensi 1--2 kali seminggu. Ia turut menekankan pentingnya waktu aplikasi yang tepat, yakni pagi atau sore hari, guna menghindari penguapan cepat dan stres pada tanaman.

Program ini sejalan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk cair dan padat bernilai guna, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan volume sampah organik yang berpotensi menghasilkan emisi gas metana apabila dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan.

Melalui program ini, para relawan pengurus TPS 3R Desa Keprabon tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis, tetapi juga pengalaman praktik langsung mengelola limbah organik secara mandiri menjadi produk bernilai guna, sekaligus memiliki solusi teknis berupa komposter otomatis yang meringankan beban perawatan harian. Program ini diharapkan dapat mendorong pengelolaan sampah organik yang lebih berkelanjutan di tingkat desa.

 

Penulis: Stephanie Cello Lareina, Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro, Program Studi Kimia, berlokasi di Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Ir. Suyatno, M.Kes

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0